<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4287553490609617407</id><updated>2011-04-21T18:15:22.506-07:00</updated><title type='text'>sarono</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sarononain.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4287553490609617407/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sarononain.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sarono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02590839850593189457</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4287553490609617407.post-8849567896555257372</id><published>2007-04-09T04:49:00.000-07:00</published><updated>2007-04-09T04:53:29.575-07:00</updated><title type='text'>Realita Sosial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153); font-family: georgia; font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Balada Sungai Lebung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153); font-family: georgia; font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;Denyut  Pendidikan Terbalut Keterisolasian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_yqYAlEdO8Eg/RhopAvlHpMI/AAAAAAAAAAM/85c-F08WQuw/s1600-h/PS+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_yqYAlEdO8Eg/RhopAvlHpMI/AAAAAAAAAAM/85c-F08WQuw/s320/PS+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051395024798328002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 0, 0); font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;TERISOLIR  dan memprihatinkan. Begitulah gambaran yang selalu muncul setiap kali  orang membicarakan tentang Desa Sungai Lebung. Wilayah yang kini menjadi  Ibukota Kecamatan Pemulutan Selatan Kabupaten Ogan Ilir (OI) ini,  memang hingga kini masih terbalut keterisolasian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu benar-benar  terlihat  ketika Makmur Asyik, Sarono Putro Sasmito dan Sumaryanta dari Buletin Suara Pendidikan,  melakukan reportase ke daerah ini, Jumat (19/1) lalu. Dengan perjalanan yang agak tergesa-gesa, karena  hari  Jumat yang jam kerjanya lebih pendek dibandingkan hari-hari lain, kami berupaya  menjangkau lokasi itu.&lt;br /&gt;Dengan menyewa ketek  (sebutan kendaraan air sejenis perahu bermesin, Red)&lt;br /&gt;berpenumpangkan empat orang, kami mulai menuruni bibir Sungai Juaro di Desa Suka Merindu. Lelaki muda yang mengemudikan  ketek itu mulai menghidupkan mesin ketek dan kendaraan air itu mulai melaju membelah Sungai Juaro yang berwarna kekuningan. Kendaraan air itu berjalan lambat, mungkin karena mesinnya telah tua. Perjalanan berlangsung dengan lancar, ketika kami mendarat dan menjejakkan kaki di Desa Sungai Lebung, gambaran keterisolasian daerah itu benar-benar menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;Bayangkan! Di  pusat kota kecamatan hasil pemekaran ini, kami tidak menjumpai satu pun kendaraan roda empat. Sebab memang tak ada akses jalan yang dapat membawanya ke arah itu. Bahkan  ruas jalan menuju Kantor Kecamatan Pemulutan Selatan yang baru saja diresmikan pada Senin, 15 Januari 2007  lalu, masih berupa timbunan tanah liat dan becek. Anehnya, kantor kecamatan itu  pun lengang. Tak terlihat sama sekali kesibukan para pegawai di tempat itu.&lt;br /&gt;“Tak ada pegawai yang masuk, Pak. Termasuk  Pak Camat M. Syafei hari ini tak datang,” ujar Hardiyan staf TKS yang mengurus kantor kecamatan ini kepada Suara Pendidikan.&lt;br /&gt;Merasa tidak mendapatkan nara sumber yang kami tuju, kami pun terus menyusuri jalan setapak menuju beberapa fasilitas pendidikan dan fasilitas  umum lainnya. Tak jauh dari  kantor camat itu, terdapat bangunan Puskesmas. Di gedung yang masih baru dan belum sepenuhnya selesai ini pun tidak terlihat kesibukan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Yang ada justru beberapa tukang bangunan yang melakukan penyelesaian beberapa bagian bangunan.&lt;br /&gt;Kaki  kami terus melangkah. Tak jauh dari lokasi itu, ternyata kami temui adanya bangunan  Puskesmas Pembantu (Pustu). Di tempat ini, agak semarak. Di sebuah ruangan ada  belasan anak-anak yang mengenakan  baju kaos oranye. Mereka didampingi oleh para ibunya dan salah seorang yang perprofesi sebagai guru yang mengasuhnya.&lt;br /&gt;“Ini namanya Pendididikan Anak Usia Dini atau PAUD, Pak,” ujar  Farida.&lt;br /&gt;Perempuan lulusan  SMA Muhammadiyah 7 Palembang ini, terlihat antusias menjelaskan keberadaan PAUD yang diasuhnya.&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu, kami pun meneruskan perjalanan untuk melihat kondisi sekolah yang ada di desa ini. Dengan menyewa tiga sepeda motor pengojek kami menyusuri jalan desa yang ada di pinggir Sungai Juaro. Jalanan yang licin membuat kami mesti ekstra hati-harti agar tak tergelincir dan terjebur ke sungai.&lt;br /&gt;Di  SDN 1 Sungai Lebung, justru kami mendapatkan pemandangan yang lebih memprihatinkan. Sebab sekolah yang memiliki 290 peserta didik ini, terlihat jelas kekurangan lokal. Fisik bangunan semi permanen ini pun, banyak memperlihatkan kondisi kerusakan. Di sana-sini lantai papannya berlubang. Bahkan ada satu ruangan yang berada di bagian tengah kondisinya lebih parah. Lantai papannya berlubang-lubang dan tekstur lantainya pun telah bergelombang. Kondisi seperti itu tak jarang membuat anak-anak terperosok ketika tengah melakukan aktifitas di dalam kelas. Untuk menghindarkan kejadian yang lebih buruk, maka ruangan itu pun kini dikosongkan.&lt;br /&gt;“Yah, beginilah kondisi kami, Pak.  Kekurangan  lokal menjadi kendala utama dalam kegiatan belajar-mengajar. Di samping harus mengajar secara shif-shif-an ada juga kelas yang harus dihuni 61 murid dalam setiap pelajarannya,” ujar Edi Iskandar guru  Penjaskes di sekolah ini.&lt;br /&gt;Di lembaga pendidikan dasar yang dipimpin oleh Kepala Sekolah  Fatimah AR, Ama. Pd ini terdapat 19 orang  guru. Dari jumlah itu hanya lima  orang guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Selebihnya dua orang CPNS, lima orang Guru Bantu, empat orang Guru Honor Daerah (Honda) dan tiga orang tenaga honorer.&lt;br /&gt;Menurut  Zatiah dan Sarima, dua orang guru yang mengajar di tempat itu, berbagai kekurangan itu membuat dunia pendidikan di wilayah ini terbilang suram. Sebab semuanya berjalan dengan penuh keterbatasan. Bukan hanya ruang kelas, buku ajar, alat peraga, sampai dengan  perpustakaan belum mereka miliki.&lt;br /&gt;Apa yang diutarakan oleh kedua orang stafnya diakui oleh Fatimah sendiri. Keadaan sekolah yang dipimpinnya memang masih serba kekurangan.&lt;br /&gt;“Kami sering mengajukan permohonan bantuan ke Pemkab. Tetapi hingga sekarang belum ada realisasinya,” ujar guru senior ini.&lt;br /&gt;Ketika perjalanan kami lanjutkan menuju Kantor Cabang Dinas Pendidikan Nasional (Cabdin Diknas) Kecamatan Pemulutan Selatan, di tempat ini pun kami menemukan kondisi yang nyaris sama. Ternyata bukan hanya  camat, kepala Puskesmas, dan kepala sekolah. Kacabdin Diknas pun  sedang tidak berada di lokasi.&lt;br /&gt;“Kami sedang ada urusan di kabupaten,” ujar Kacabdin Diknas Pemulutan Selatan Bahrus Syarif ketika dihubungi via ponsel.&lt;br /&gt;Menurut  Hermanto, CPNS yang bertugas di tempat itu, pimpinannya  memang sedang ada urusan di kabupaten. “Aktifitas kami   tidak begitu kelihatan, di samping hari Jumat banyak pegawai yang melayat,” jelasnya lagi.&lt;br /&gt;Dari  tempat itu, kemudian kami beranjak menuju  SMPN 1 Pemulutan Selatan. Di lembaga pendidikan yang baru berjalan sekitar tiga tahun ini pun, kami menemukan keganjilan serupa. Kepala Sekolah M. Kusim Arsyad juga tidak berada di tempat. Para murid  tidak sedang dalam kegiatan belajar mengajar.  Sebagian bergerombol di luar ruangan,  yang lain ada di dalam kelas. Tetapi semuanya bukan tengah belajar.&lt;br /&gt;Ketika sampai di ruangan kepala sekolah,   kami justru disambut oleh Mirani Arsyad, SE dan  Fashihah, SE dua orang guru tak tetap (GTT) yang mengabdi di tempat itu.&lt;br /&gt;“Muridnya 263 orang, Pak. Tetapi karena sering terjadi  jam kosong maka mereka tak ada kegiatan,” ujar keduanya menerangkan kondisi yang tengah kami lihat.&lt;br /&gt;Mirani, Sarjana Ekonomi alumni Universitas Pattimura (Unpati)  Ambon ini, mengaku melihat  kondisi seperti itulah yang membuatnya tergerak untuk menyumbangkan ilmunya.&lt;br /&gt;“Memang honornya tak seberapa, hanya Rp 3 ribu per  jam. Tetapi karena kami ingin menyumbangkan ilmu kepada mereka maka kami menjalani  profesi ini selama tiga tahun ini,” ujar ibu yang mengajar Geografi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah  akan Berubah?&lt;br /&gt;Wajah kusam pendidikan di Sungai Lebung, memang menjadikan daerah ini populer  di Kabupaten Ogan Ilir (OI). Kepopulerannya bukan karena prestasi yang berhasil diraih oleh pelaku  pendidikan di wilayah ini. Tetapi lebih karena lokasinya yang terisolir sehingga hanya dapat dijangkau dengan kendaraan air.&lt;br /&gt;Tak pelaklah kalau pegawai di Dinas Diknas OI  berusaha menghindarkan diri  ditugaskan  di tempat tersebut.  Sebab, meski desa itu secara geografis,  jaraknya hanya sekitar  15 kilometer dari Indralaya, namun  karena lokasinya yang terisolir, sehingga tak terjangkau kendaraan roda empat.&lt;br /&gt;Kenyataan seperti itu  membuat  kami yang menyambangi desa itu seperti berada pada “dunia lain” dalam peta wilayah Kabupaten Ogan Ilir.  Ketika desa-desa tetangga  seperti Suka Merindu, desa-desa di Kecamatan Tanjung Raja diramaikan oleh deru kendaraan roda empat, di daerah ini justru kendaraan seperti itu tak ada.&lt;br /&gt;Pandangan mata anak-anak dan warga hanya tertumbuk, pada kuningnya air sungai yang melingkari desa mereka. Satu dua  sepeda motor memang dapat memasuki desa itu, setelah melewati proses “evakuasi” dengan ketek yang susah payah.&lt;br /&gt;Sebagai ibukota kecamatan  yang berdampingan dengan delapan desa lain yang termasuk dalam Kecamatan Pemulutan Selatan. Sebenarnya Desa Sungai Lebung dapat dijadikan barometer  mutu pendidikan di kecamatan ini.  Kalau di ibukota kecamatannya saja kondisi pendidikannya serba kekurangan, maka desa-desa  yang lain pun akan menghadapi  kenyataan yang lebih parah lagi.&lt;br /&gt;“Kondisi seperti inilah yang sekarang sedang dibenahi oleh Bapak Bupati. Kami sebagai perpanjangan tangannya siap melaksanakan tugas sebaik-baiknya,” ujar Kacabdin Diknas Pemultan Selatan Drs. Bahrus Syarif&lt;br /&gt;Gairah Baru Yang Terpicu&lt;br /&gt;Di  balik cerita buram dan suram dunia pendidikan di wilayah ini. Adanya  pemekaran Kabupaten  Ogan  Ilir  dari  Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang diikuti dengan pemekaran kecamatan  dengan terbentuknya  Kecamatan Pemulutan  Selatan terbukti membawa gairah baru bagi warganya.&lt;br /&gt;Hermanto PNS di  Cabdin Diknas  Pemulutan Selatan  mengemukakan, kegairahan masyarakat desa-desa di Kecamatan Pemulutan Selatan makin terasa saat ini. Mereka, terbuka matanya ketika berbagai fasilitas dibangun di wilayah ini.&lt;br /&gt;“Bayangkan kini, kami telah memiliki kantor kecamatan, Puskesmas dan pembangunan gedung-gedung sekolah baru. Semua ini tak pernah terwujud puluhan tahun ketika kami masih berada di wilayah OKI,” katanya. Sebagai putra daerah, kini dia merasa tertantang untuk turut andil mengisi pembangunan di desa kelahirannya.&lt;br /&gt;Beberapa warga desa yang lain membenarkan keterangan Hermanto. Geliat pembangunan di kecamatan ini bukan hanya bidang pendidikan. Tetapi juga meliputi ekonomi,  seni dan kebudayaan. Misalnya adanya pengrajin  songket yang banyak berkarya di daerah ini. Sinergis pembangunan pendidikan, kesehatan dan perekonomian itulah yang kami harapkan meningkatkan taraf hidup kami, kata mereka. Secercah harapan akankah menjadi kenyataan…. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4287553490609617407-8849567896555257372?l=sarononain.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sarononain.blogspot.com/feeds/8849567896555257372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4287553490609617407&amp;postID=8849567896555257372&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4287553490609617407/posts/default/8849567896555257372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4287553490609617407/posts/default/8849567896555257372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sarononain.blogspot.com/2007/04/realita-sosial.html' title='Realita Sosial'/><author><name>Sarono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02590839850593189457</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_yqYAlEdO8Eg/RhopAvlHpMI/AAAAAAAAAAM/85c-F08WQuw/s72-c/PS+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
